Minggu, 22 Mei 2016

Pengertian COBIT Menurut Para Ahli

Model Audit COBIT
Latar Belakang dan Sejarah Singkat COBIT
COBIT edisi keempat adalah merupakan versi terakhir dari tujuan pengendalian untuk informasi dan teknologi terkait, release pertama diluncurkan oleh yayasan ISACF pada tahun 1996. COBIT edisi kedua, merefleksikan suatu peningkatan sejumlah dokumen sumber, revisi pada tingkat tinggi dan tujuan pengendalian rinci dan tambahan seperangkat alat implementasi (implementation tool set), yang telah dipublikasikan pada tahun 1998. COBIT pada edisi ke tiga ditandai dengan masuknya penerbit utama baru COBIT yaitu Institut IT Governance.

Institut IT Governance dibentuk oleh ISACA dan yayasan terkait pada tahun 1998 dan memberikan pemahaman lebih dan mengadopsi prinsip-prinsip pengaturan TI. Melalui penambahan pedoman manajemen (management guidelines) untuk COBIT edisi ketiga dan fokusnya diperluas dan ditingkatkan pada IT Governance. Institut IT Governance mengambil peranan yang penting dalam pengembangan publikasi.

COBIT pada umumnya didasarkan pada tujuan pengendalian (Control Objectives) ISACF dan telah ditingkatkan dengan teknik internasional yang ada, professional, pengaturan, dan standar khusus industri. Hasil tujuan pengendalian telah dikembangkan untuk aplikasi sistem informasi yang luas pada organisasi. Istilah “pada umumnya dapat diterima dan diterapkan” secara eksplisit digunakan dalam pengertian yang sama dengan prinsip Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).

Pengertian COBIT
COBIT dapat diartikan sebagai tujuan pengendalian untuk informasi dan teknologi terkait dan merupakan standar terbuka untuk pengendalian terhadap teknologi informasi yang dikembangkan dan dipromosikan oleh Institut IT Governance.

COBIT pertama sekali diperkenalkan pada tahun 1996 adalah merupakan alat (tool) yang disiapkan untuk mengatur teknologi informasi (IT Governance tool).

COBIT telah dikembangkan sebagai sebuah aplikasi umum dan telah diterima menjadi standar yang baik bagi praktek pengendalian dan keamanan TI yang menyediakan sebuah kerangka kerja bagi pengelola, user, audit sistem informasi, dan pelaksana pengendalian dan keamanan.

COBIT, di terbitkan oleh Institut IT Governance. Pedoman COBIT memungkinkan perusahaan untuk mengimplementasikan pengaturan TI secara efektif dan pada dasarnya dapat diterapkan di seluruh organisasi. Khususnya, komponen pedoman manajemen COBIT yang berisi sebuah respon kerangka kerja untuk kebutuhan manajemen bagi pengukuran dan pengendalian TI dengan menyediakan alat-alat untuk menilai dan mengukur kemampuan TI perusahaan untuk 34 proses TI COBIT. 

Alat-alat tersebut yaitu :
  1. Elemen pengukuran kinerja (pengukuran hasil dan kinerja yang mengarahkan bagi seluruh proses TI)
  2. Daftar faktor kritis kesuksesan (CSF) yang disediakan secara ringkas, praktek terbaik non teknis dari tiap proses TI
  3. Model maturity untuk membantu dalam benchmarking dan pengambilan keputusan bagi peningkatan kemampuan 
Komponen COBIT terdiri dari Executive Summary, Framework, Control Objectives, Audit Guidelines, Implemenation Tool Set, Management Guidelines

COBIT memiliki misi melakukan riset, mengembangkan, mempublikasikan, dan mempromosikan makalah-makalah, serta meng-update tatanan atau ketentuan TI controls objective yang dapat diterima umum (generally accepted control objectives) berikut panduan pelengkap yang dikenal sebagai Audit Guidelines yang memungkinkan penerapan framework dan control objectives dapat berjalan mudah. Tatanan atau ketentuan tersebut selanjutnya digunakan oleh para manajer dunia usaha maupun auditor dalam menjalankan profesinya.

Sedangkan visi dari COBIT adalah dijadikan COBIT sendiri sebagai satu-satunya model pengurusan dan pengendalian teknologi informasi (Information Technology Governance).

Kerangka Kerja COBIT
Kebutuhan Pengendalian Teknologi Informasi
Agar organisasi meraih kesuksesan, maka perlu memperhatikan dan memahami mengenai resiko dan keterbatasan TI disemua level organisasi agar mencapai arahan yang efektif dan pengendalian yang memadai.

Manajemen harus memutuskan investasi yang memadai bagi pengendalian (control) dan keamanan (security) TI dan menyeimbangkan resiko dan investasi pengendalian yang tidak terprediksi dalam lingkungan TI. Oleh karena itu, kebutuhan terhadap manajemen kerangka kerja (framework) yang jelas, secara umum diterima sebagai praktek-praktek pengendalian dan keamanan TI untuk benchmark terhadap perencanaan dan kondisi TI yang ada.

Terdapat kebutuhan yang meningkat dari user atas layanan TI untuk penjaminan, akreditasi dan audit atas layanan TI, baik yang disediakan oleh pihak ketiga maupun yang disediakan oleh pihak internal.

Lingkungan Bisnis
Di era kompetisi global seperti sekarang ini, organisasi harus melakukan restrukturisasi terhadap kegiatan operasionalnya dan menggunakan keunggulan TI untuk meningkatkan posisi daya saing organisasi. 

Business re-engineering, right-sizing, outsourcing, empowerment, flattened organization, dan distributed processing merupakan semua perubahan yang mempengaruhi cara bisnis dan operasional perusahaan. Perubahan ini akan terus terjadi dan akan berimplikasi besar terhadap manajemen dan struktur pengendalian operasional dalam organisasi.

Penekanan dalam mencapai keuntungan yang kompetitif dan efisiensi biaya, termasuk kepercayaan yang meningkat pada teknologi merupakan komponen besar dalam strategi kebanyakan organisasi. Fungsi organisasi yang otomatis, secara alamiah merupakan penggabungan ketentuan mekanisme pengendalian yang lebih kuat kedalam komputer dan jaringan, berbasis hardware dan software.

Perusahaan dan IT Governamce
IT Governance menyediakan suatu stuktur yang berhubungan dengan proses TI, sumberdaya TI dan informasi untuk strategi dan tujuan perusahaan. Cara mengintegrasikan IT Governance dan optimalisasi perusahaan yaitu melalui perencanaan dan pengorganisasian (PO), akuisisi dan implementasi (AI), penyampaian dan dukungan (DS), dan pengawasan (M) kinerja TI. 

IT Governance merupakan bagian terintegrasi bagi kesuksesan pengaturan perusahaan dengan jaminan efisiensi dan efektivitas perbaikan pengukuran dalam kaitan dengan proses perusahaan. IT Governance memungkinkan perusahaan untuk memperoleh keunggulan penuh terhadap informasi, keuntungan yang maksimal, modal, peluang dan keunggulan kompetitif dalam bersaing.

Pengaturan perusahaan (enterprise governance) dan sistem oleh entitas diarahkan dan dikendalikan, melalui kumpulan dan arahan IT Governance. Pada saat yang sama, TI dapat menyediakan masukan kritis, dan merupakan komponen penting bagi perencanaan strategis. Pada kenyataannya TI dapat mempengaruhi peluang strategis yang ditetapkan oleh perusahaan.
Gambar Pengaruh IT Governance terhadap pengaturan perusahaan 

Aktivitas perusahaan membutuhkan informasi dari aktivitas TI dengan maksud untuk mempertemukan tujuan bisnis. Jaminan kesuksesan organisasi diakibatkan oleh adanya saling ketergantungan antara perencanaan strategis dan aktivitas TI lainnya. Kegiatan perusahaan perlu informasi dari kegiatan TI agar dapat mengintegrasikan tujuan bisnis. 
Gambar Aktivitas Perusahaan memerlukan Aktivitas TI 

Siklus pengaturan perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut : pengaturan perusahaan ditentukan oleh praktek terbaik yang secara umum dapat diterima untuk menjamin perusahaan mencapai tujuannya, melalui pengendalian tertentu. Dari tujuan-tujuan ini mengalir arahan organisasi, yang mengatur kegiatan atau aktivitas perusahaan dengan menggunakan sumberdaya perusahaan. Hasil kegiatan atau aktivitas perusahaan diukur dan dilaporkan, memberikan masukan bagi pengendalian, demikian seterusnya, kembali ke awal siklus.
Gambar Siklus pengaturan perusahaan 

Siklus pengaturan TI dapat dijelaskan sebagai berikut : pengaturan TI, di tentukan oleh praktek terbaik yang menjamin informasi perusahaan dan teknologi terkait mendukung tujuan bisnisnya, sumberdaya digunakan dengan tanggung jawab dan resiko diatur secara memadai. Praktek tersebut membentuk dasar arahan kegiatan TI yang dapat dikelompokan kedalam PO, AI, DS dan M, dengan tujuan untuk pengaturan (memperoleh keamanan, keandalan dan pemenuhan) dan mendapat keuntungan (meningkatkan efektivitas, dan efisiensi). Laporan dikeluarkan melalui hasil kegiatan atau aktivitas TI, yang diukur dari praktek dan pengendalian yang bervariasi, demikian seterusnya, kembali ke awal siklus.
Gambar Siklus pengaturan TI 

Agar menjamin manajemen mencapai tujuan bisnisnya, maka harus mengatur dan mengarahkan kegiatan TI dalam mencapai keseimbangan yang efektif antara mengatur resiko dan mendapatkan keuntungan. Untuk melaksanakannya, manajemen perlu mengidentifikasikan kegiatan terpenting. Selain itu, perlu juga kemampuan mengevaluasi tingkat kesiapan organisasi terhadap praktek terbaik dan standar internasional. Untuk mendukung kebutuhan manajemen tersebut, pedoman manajemen COBIT (COBIT Management Guidelines) telah secara khusus mengidentifikasikan CSF, KGI, KPI dan model maturity untuk pengaturan TI.

Definisi Umum
Pengendalian, didefinisikan sebagai kebijakan, prosedur, praktek dan struktur organisasi yang dirancang untuk mengadakan jaminan yang tepat dimana tujuan bisnis akan tercapai dan kejadian yang tidak diinginkan akan dicegah atau dideteksi dan dikoreksi.

Tujuan pengendalian TI, didefinisikan sebagai suatu pernyataan hasil yang diinginkan atau tujuan yang ingin dicapai oleh prosedur pengendalian implementasi dalam kegiatan TI khusus.

Pengaturan TI, didefinisikan sebagai suatu stuktur hubungan dan proses untuk mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai tujuannya dengan menambah nilai yang menyeimbangkan resiko terhadap nilai kembali atas TI dan prosesnya.

Untuk mencapai tujuan organisasi secara memuaskan, informasi harus memenuhi beberapa kriteria. COBIT telah menetapkan kriteria tersebut dengan merujuk pada kebutuhan informasi di organisasi atau perusahaan. COBIT mengkombinasikan beberapa prinsip penyusunan informasi berdasarkan model-model yang sudah ada, dan merumuskannya kedalam tiga kategori utama, yaitu : kualitas (quality), tanggung jawab fidusier (fiduciary responsibility) dan keamanan (security). 

Berdasarkan tiga persyaratan di atas, muncul tujuh kategori yang saling terkait satu sama lain, dan dijadikan sebagai kriteria untuk mengevaluasi sumberdaya teknologi informasi yang dapat memenuhi kebutuhan organisasi atau perusahaan akan suatu informasi. 

Kriteria dimaksud adalah :
(a) Efektivitas (Effectiveness), menguraikan informasi yang relevan dan berhubungan dengan proses bisnis yang disampaikan tepat pada waktunya dengan cara yang benar, konsisten dan tepat digunakan.
(b) Efisiensi (Efficiency), menyangkut ketentuan informasi melalui penggunaan sumberdaya yang optimal (lebih produktif dan ekonomis).
(c) Kerahasiaan (Confidentiality), menyangkut perlindungan informasi yang sensitif dari akses yang tidak sah.
(d) Integritas (Integrity), berkaitan dengan keakuratan dan kelengkapan informasi juga keabsahannya yang sesuai dengan harapan (expectation) dan nilai bisnis.
(e) Ketersediaan (Availability), berkaitan dengan informasi yang tersedia yang diperlukan oleh proses bisnis saat ini dan yang akan datang, juga menyangkut penjagaan sumberdaya yang perlu dan kemampuan yang terkait.
(f) Pemenuhan (Compliance), menguraikan pemenuhan hukum, peraturan dan persetujuan yang bersifat kontrak dimana proses bisnisnya merupakan subyek, yakni kriteria bisnis yang ditentukan dari luar.
(g) Keterandalan informasi (Reliability of Information), berkaitan dengan ketentuan informasi yang memadai bagi manajemen untuk menjalankan dan melaksanakan keseluruhan finansialnya dan pemenuhan laporan tanggung jawab.

Sumberdaya TI yang diidentifikasikan dalam COBIT dapat diterangkan atau diidentifikasikan sebagai berikut :
  • Data, adalah obyek-obyek dalam pengertian yang lebih luas (yakni internal dan eksternal), terstruktur dan tidak terstruktur, grafik, suara dan sebagainya.
  • Sistem aplikasi, dipahami untuk menyimpulkan atau meringkas, baik prosedur manual maupun yang terprogram.
  • Teknologi, mencakup hardware, sistem operasi, sistem manajemen database, jaringan (networking), multimedia, dan lain-lain.
  • Fasilitas, adalah semua sumberdaya untuk menyimpan dan mendukung sistem informasi.
  • Manusia termasuk staf ahli, kesadaran dan produktivitas untuk merencanakan, mengorganisasikan atau melaksanakan, memperoleh, menyampaikan, mendukung dan memantau layanan sistem informasi.

Cara lain memandang hubungan sumberdaya TI untuk penyampaian layanan digambarkan sebagai berikut :
Gambar Hubungan sumber TI untuk penyampaian layanan 

Proses bisnis membutuhkan informasi yang efektif, efisien, kerahasiannya terjamin, integritas data terjaga, memenuhi aturan dan handal. Itu semua harus dapat dipenuhi oleh informasi yang dihasilkan dari sumberdaya TI yang terdiri dari data, sistem aplikasi, teknologi fasilitas dan sumberdaya manusia.

Gambar Kerangka kerja tujuan pengendalian TI 

Kerangka kerja COBIT, terdiri dari tujuan pengendalian tingkat tinggi dan struktur klasifikasi keseluruhan. Terdapat tiga tingkat (level) usaha pengaturan TI yang menyangkut manajemen sumberdaya TI. Mulai dari bawah, yaitu kegiatan dan tugas (activities and tasks) yang diperlukan untuk mencapai hasil yang dapat diukur. Dalam Aktivitas terdapat konsep siklus hidup yang di dalamnya terdapat kebutuhan pengendalian khusus. Kemudian satu lapis di atasnya terdapat proses yang merupakan gabungan dari kegiatan dan tugas (activities and tasks) dengan keuntungan atau perubahan (pengendalian) alami. Pada tingkat yang lebih tinggi, proses biasanya dikelompokan bersama kedalam domain.

Pengelompokan ini sering disebut sebagai tanggung jawab domain dalam struktur organisasi dan yang sejalan dengan siklus manajemen atau siklus hidup yang dapat diterapkan pada proses TI.

Gambar Tiga tingkat usaha pengaturan TI 

Selanjutnya, konsep kerangka kerja dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu 
  1. kriteria informasi (information criteria), 
  2. sumberdaya TI (IT resources), dan 
  3. proses TI (IT processes).
Ketiga sudut pandang tersebut digambarkan dalam kubus COBIT sebagai berikut :

Gambar Kubus COBIT 

Dalam kerangka kerja sebelumnya, domain diidentifikasikan dengan memakai susunan manajemen yang akan digunakan dalam kegiatan harian organisasi. Kemudian empat domain yang lebih luas diidentifikasikan, yaitu PO, AI, DS, dan M. 

Definisi keempat domain tersebut, dimasukan dalam klasifikasi tingkat tinggi sebagai berikut :
  • PO, domain ini mencakup level strategis dan taktis, dan konsennya pada identifikasi cara TI yang dapat menambah pencapaian terbaik tujuan-tujuan bisnis.
  • AI, untuk merealisasikan strategi TI, solusi TI yang perlu diidentifikasikan, dikembangkan atau diperlukan, juga diimplementasikan dan diintegrasikan dalam proses bisnis.
  • DS, domain ini menyangkut penyampaian aktual dari layanan yang diperlukan, dengan menyusun operasi tradisional terhadap keamanan dan aspek kontinuitas sampai pada pelatihan, domain ini termasuk proses data aktual melalui sistem aplikasi, yang sering diklasifikasikan dalam pengendalian aplikasi.
  • M, semua proses TI perlu dinilai secara teratur atas suatu waktu untuk kualitas dan pemenuhan kebutuhan pengendalian. Domain ini mengarahkan kesalahan manajemen pada proses pengendalian organisasi dan penjaminan independen yang disediakan oleh audit internal dan eksternal atau diperolah dari sumber alternatif.
Proses-proses TI ini dapat diterapkan pada tingkatan yang berbeda dalam organisasi, misalnya tingkat perusahaan, tingkat fungsi dan lain-lain.

Jelas bahwa semua ukuran pengendalian perlu memenuhi kebutuhan bisnis yang berbeda untuk informasi pada tingkat yang sama.
  • Pertama adalah tingkat tujuan pengendalian yang diterapkan secara langsung mempengaruhi kriteria informasi terkait.
  • Kedua adalah tingkat tujuan pengendalian yang ditetapkan hanya memenuhi tujuan pengendalian atau secara tidak langsung kriteria informasi terkait.
  • Blank dapat diterapkan namun kebutuhannya lebih memenuhi kriteria lain dalam proses ini atau yang lainnya.
Agar organisasi mencapai tujuannya, pengaturan TI harus dilaksanakan oleh organisasi untuk menjamin sumberdaya TI yang dijalankan oleh seperangkat proses TI.

COBIT dan Pedoman Audit
Pedoman audit menyediakan alat yang saling melengkapi untuk memungkinkan aplikasi yang mudah dari kerangka kerja COBIT dan tujuan-tujuan pengendalian dalam audit dan kegiatan penilaian.

Maksud pedoman audit adalah untuk menyediakan struktur yang sederhana untuk mengaudit dan menilai pengendalian berdasarkan pada praktek audit yang diterima secara umum yang sesuai dengan skema COBIT keseluruhan. Pedoman audit ini menyediakan petunjuk untuk mempersiapkan perencanaan audit yang diintegrasikan dengan kerangka kerja COBIT dan tujuan pengendalian rinci, yang dapat dikembangkan kedalam program audit khusus.

Pedoman audit COBIT memungkinkan auditor mereview proses khusus TI terhadap tujuan pengendalian yang direkomendasikan, untuk membantu menjamin menajemen terhadap pengendalian yang memadai, atau memberi saran kepada manajemen apakah proses perlu ditingkatkan.

Kebutuhan Proses Bisnis
Untuk menetapkan bidang audit yang benar, dibutuhkan investigasi, analisa dan definisi :
  • proses bisnis yang bersangkutan
  • platform dan sistem informasi yang mendukung proses bisnisnya juga antar konektifitas dengan platform dan sistem lainnya
  • peran dan tanggungjawab TI yang ditetapkan, termasuk yang telah menjadi sumber dalam dan luar
  • resiko bisnis terkait dan pilihan strategis

Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasikan kebutuhan informasi yang ada relevansinya dengan proses bisnis. Selanjutnya diperlukan identifikasi resiko TI yang melekat juga tingkat pengendalian keseluruhan yang dapat diasosiasikan dengan proses bisnis, yakni :
  • Perubahan yang ada dalam lingkungan bisnis yang berdampak pada TI
  • Perubahan yang ada pada lingkungan TI, perkembangan baru dan lain-lain.
  • Kejadian yang ada, relevan terhadap pengendalian dan lingkungan bisnis.
  • Pengendalian pemantauan TI diterapkan oleh manajemen 
  • Audit yang ada dan atau laporan sertifikasi
  • Hasil yang ada pada penilaian itu sendiri
Atas dasar informasi yang diperoleh, kita dapat menyeleksi proses COBIT yang relevan juga sumberdaya yang dapat diterapkan. Selain itu harus menerapkan strategi audit atas dasar rencana audit rinci yang lebih lanjut harus diuraikan yakni dengan pendekatan berbasis pengendalian atau pendekatan substantif.

Pedoman Manajemen COBIT
Institut IT Governance telah melakukan riset utama bekerja sama dengan kalangan akademisi, analis, dan para ahli dunia industri. Riset tersebut menghasilkan definisi pedoman manajemen untuk COBIT, yang terdiri dari model maturity, CSF, KGI, dan KPI, yang kemudian menyediakan manajemen dengan alat untuk menilai dan mengukur lingkungan TI organisasi terhadap 34 proses TI yang diidentifikasikan COBIT.

Terdapat perubahan besar dalam TI dan jaringan yang menekankan informasi elektronik dan sistem TI untuk mendukung proses bisnis kritis. Selanjutnya, bisnis yang sukses perlu pengaturan yang lebih baik dalam menghadapi teknologi yang komplek. Dengan meningkatnya pengungkapan kesalahan sistem informasi dan penyalahgunaan (fraud) elektronik, maka lingkungan organisasi memerlukan pengendalian yang teliti terhadap informasi. Saat ini manajemen TI terkait resiko tersebut dipahami sebagai bagian inti dari pengaturan perusahaan.

Pengaturan TI yang merupakan bagian dari pengaturan perusahaan, menjadi lebih dirasakan peranannya dalam mencapai tujuan organisasi dengan menambah nilai melalui penyeimbangan resiko terhadap nilai kembali atas TI dan prosesnya. 

Pengaturan TI merupakan pelengkap suksesnya pengaturan perusahaan melalui peningkatan yang efisien dan efektif sehubungan dengan proses perusahaan. Pengaturan TI menyediakan stuktur yang berhubungan dengan proses TI, sumberdaya TI, dan informasi untuk strategi dan tujuan perusahaan. Lebih lanjut, pengaturan TI mengintegrasikan dan melembagakan praktek yang berhubungan dengan PO, AI, DS, dan M kinerja TI untuk menjamin bahwa informasi perusahaan dan teknologi terkait mendukung tujuan bisnisnya. Selain itu pengaturan TI memungkinkan perusahaan mengambil keuntungan dari informasi tersebut. 

Jawaban untuk kebutuhan penetapan ini dan pemantauan keamanan TI yang sesuai dan tingkat pengendalian adalah definisi dari :
  • Benchmarking praktek pengendalian TI (dinyatakan sebagai model maturity )
  • Indikator kinerja proses TI - untuk hasil dan kinerjanya 
  • CSF untuk mendapatkan proses dalam pengendalian ini
Pedoman manajemen konsisten dan dibangun atas kerangka kerja COBIT, tujuan pengendalian dan pedoman audit. Selain itu, prinsip balance business scorecard digunakan untuk memfokuskan pada manajemen kinerja, yang membantu menetapkan KGI, mengidentifikasikan dan mengukur hasil proses dan KPI, menilai bagaimana proses dilaksanakan melalui ukuran yang memungkinkan. Oleh karena itu hubungan antara tujuan bisnis dengan ukurannya dan TI dengan tujuan dan ukurannya sangat penting dan dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar Hubungan antara tujuan dan ukuran bisnis dengan tujuan dan ukuran TI 

Ukuran ini akan membantu manajemen dalam memantau organisasi dengan menjawab pertanyaan berikut :
1. Apa yang menjadi perhatian manajemen?
Yakinkan bahwa kebutuhan perusahaan dipenuhi

2. Dimana diaturnya?
Pada Balanced Business Scorecard sebagai Key Goal Indicator yang menggambarkan hasil proses bisnis.

3. Apa yang menjadi perhatian TI?
Bahwa proses TI menyampaikan dasar informasi yang benar dan tepat pada perusahaan memungkinkan kebutuhan bisnis dipenuhi. Ini merupakan CSF bagi perusahaan.

4. Dimana diukurnya?
Pada Balanced Business Scorecard TI, sebagai KGI yang menggambarkan hasil TI, dimana informasi tersebut disampaikan dengan kriteria yang benar (efektivitas, efisiensi, kerahasiaan, integritas, ketersediaan, pemenuhan dan keterandalan).

5. Kebutuhan-kebutuhan lain apa yang diukur?
Apapun hasilnya secara positif dipengaruhi oleh sejumlah CSF yang perlu diukur sebagai KPI terhadap bagaimana TI berjalan dengan baik.

Model maturity untuk pengendalian terhadap proses TI terdiri dari pengembangan suatu metode penyusunan agar suatu organisasi dapat menilai tingkatan posisinya dari non-existent ke optimised (dari 0 sampai 5). 

Pendekatan ini diambil dari Maturity Model Software Engineering Institute yang diterapkan untuk kematangan kemampuan pengembangan software. Terhadap tingkat ini, dikembangkan untuk setiap 34 proses TI COBIT, manajemen dapat menggambarkan :
  • Status organisasi saat ini – dimana organisasi saat ini
  • Status terbaik industri saat ini (dikelasnya) – sebagai perbandingan 
  • Status standar internasional saat ini – sebagai perbandingan 
  • Strategi organisasi untuk perbaikan atau peningkatan – ke arah mana keinginan organisasi 

Gambar Model Maturity 

CSF menetapkan masalah terpenting atau tindakan untuk manajemen mencapai pengendalian proses TI. CSF harus mengatur orientasi pedoman implementasi dan mengidentifikasikan hal terpenting yang dilakukan secara strategis, teknis, organisasional atau prosedur.

KGI menetapkan ukuran yang mengarahkan manajemen setelah fakta – apakah proses TI telah mencapai kebutuhan bisnisnya, biasanya digambarkan atas kriteria informasi : ketersediaan informasi diperlukan untuk mendukung kebutuhan bisnis, ketiadaan atau kekurangan integritas dan resiko kerahasiaaan, efisiensi biaya proses dan operasi, konfirmasi reliabilitas, efektivitas dan pemenuhan

KPI menetapkan ukuran untuk menentukan bagaimana proses TI dilaksanakan dengan baik yang memungkinkan tujuan tersebut dicapai.

Secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut :
  • Model maturity, untuk pilihan strategis dan perbandingan benchmarking 
  • CSF, untuk mendapatkan proses dalam pengendalian 
  • KGI, untuk memantau pencapaian tujuan proses 
  • KPI, untuk memantau kinerja dalam setiap proses TI. 
Kerangka kerja COBIT menetapkan 34 proses TI dalam lingkungan TI. Untuk setiap proses terdapat satu pertanyaan pengendalian tingkat tinggi dan antara 3 sampai 30 tujuan pengendalian rinci. Pemilik proses harus dapat menetapkan tingkat yang melekat pada tujuan pengendalian. Pengendalian

Daftar Pustaka
  • Alvin A, Arens, James K.Loebbecke, Auditing, Edisi Indonesia, Jakarta, 2003. 
  • Weber, Ron (1999), Information Systems Control and Audit, The University of Queensland, Prentice Hall. 
  • Information System Audit and Control Association (ISACA) (2003), IS Standards, Guidelines and Procedures for Auditing and Control Professionals, http://www.isaca.org., 14 Juli 2003. 
  • IT Governance Institute (2000), Executive Summary, COBIT 3rd Edition, http://www.isaca.org, 14 Juli 2003.. 
  • IT Governance Institute (2000), Audit Guidelines, COBIT 3rd Edition, http://www.isaca.org, 14 Juli 2003.. 
  • IT Governance Institute (2000), Management Guidelines, COBIT 3rd Edition, http://www.isaca.org., 14 Juli 2003. 
  • IT Governance Institute (2000), Implemetation Tool Set, COBIT 3rd Edition, http://www.isaca.org., 14 Juli 2003. 
  • Yayasan Pendidikan Internal Audit (2002), Institut Pendidikan dan Pelatihan Audit dan Manajemen, Audit Sistem Informasi II, Jakarta.

Minggu, 10 April 2016

Macam-macam browser machine

Macam-macam browser machine 
Internet Explorer
IE merupakan web browser paling tua. Bahkan lima tahun silam, Microsoft boleh berbangga, sebab Internet Explorer 5 adalah web browser terbaik yang ada.

Opera onstalansi
Opera Instalasi dan download Opera terbilang mudah. Dengan logo “O” berwarna merah , banyak kalangan yang mengakui kelebihannya. Kelebihan utama browser Opera adalah mampu menampilkan (load) halaman web lebih cepat, dengan kecepatan koneksi yang sama dibanding browser lain.


Firefox
Browser ini memiliki keunggulan dalam hal tampilannya yang cukup sederhana. Kinerja akses internetnya memiliki kecepatan yang sangat tinggi, baik untuk download, maupun upload file.


Mozilla
Mozilla Firefox merupakan web browser paling populer di dunia, yang mampu menempati peringkat kedua setelah Internet Explorer.


NCSA Mosaic
NCSA Mosaic adalah browser Web grafis pertama yang menerapkan sistem tunjuk dan klik dengan antarmuka grafis (Point and Click Graphical User Interface), dikembangkan oleh National Center of Supercomputer Application di University of Illionis.


Netscape Navigator
Netscape Navigator adalah paket komersial browser Web yang dikembangkan oleh Netscape Communication Corporation, serta dipelopori oleh mahasiswa lulusan NCSA dan programer-programer paruh waktu.


Internet Message Access Protocol
IMAP (Internet Message Access Protocol) adalah protokol standar untuk mengakses/mengambil e-mail dari server. IMAP memungkinkan pengguna memilih pesan e-mail yang akan ia ambil, membuat folder di server, mencari pesan e-mail tertentu, bahkan menghapus pesan e-mail yang ada.

Kemampuan ini jauh lebih baik daripada POP (Post Office Protocol) yang hanya memperbolehkan kita mengambil/download semua pesan yang ada tanpa kecuali.


Post Office Protocol versi 3
POP3 (Post Office Protocol version 3) adalah protokol yang digunakan untuk mengambil surat elektronik (email) dari server email.

Protokol ini erat hubungannya dengan protokol SMTP dimana protokol SMTP berguna untuk mengirim surat elektronik dari komputer pengirim ke server.

Protokol POP3 dibuat karena desain dari sistem surat elektronik yang mengharuskan adanya server surat elektronik yang menampung surat eletronik untuk sementara sampai surat elektronik tersebut diambil oleh penerima yang berhak. Kehadiran server surat elektronik ini disebabkan kenyataan hanya sebagian kecil dari komputer penerima surat elektronik yang terus-menerus melakukan koneksi ke jaringan internet.


Protokol ini dispesifikasikan pada RFC 1939.
Simple Mail Transfer Protocol
SMTP (Simple Mail Transfer Protocol) merupakan salah satu protokol yang umum digunakan untuk pengiriman surat elektronik di Internet. Protokol ini dipergunakan untuk mengirimkan data dari komputer pengirim surat elektronik ke server surat elektronik penerima.

Protokol ini timbul karena desain sistem surat elektronik yang mengharuskan adanya server surat elektronik yang menampung sementara sampai surat elektronik diambil oleh penerima yang berhak.

CC
Ini merupakan kependekan dari “Carbon Copy”. Memperlihat kepada kesan kepada siapa email utama ditujukan; dan kepada siapa salinan email juga akan dibaca. Penerima yang dituliskan dalam kolom To: akan dapat melihat alamat email penerima lainnya, dan begitu juga sebaliknya. Penggunaan seperti ini biasanya digunakan ketika kita ingin memberitahukan pihak lain ketika kita mengirimkan email kepada penerima utama.

Contoh: Saya ingin berkirim email kepada Pak Agus, dan saya ingin pula Pak Bambang menerima salinan email tersebut. Pak Agus tahu bahwa email saya juga dikirimkan ke Pak Bambang (sebagai salinan), dan begitu juga sebaliknya dengan Pak Bambang.


BCC
Kependekan dari “blind carbon copy”. Sedikit berbeda dengan Cc: seperti dijelaskan diatas. Disini, semua penerima yang dituliskan dibagian Bcc: tidak tahu kepada siapa saja email tersebut dikirimkan. Seolah-olah, email tersebut dikirimkan satu per satu ke setiap penerima. Padahal, kita hanya mengirimkan satu kali, langsung kebeberapa penerima. Satu-satunya alamat email lain yang terlihat adalah alamat email pada kolom To:. Untuk menghindari supaya tidak ada alamat email lain yang terlihat (selain alamat email Anda sendiri), Anda bisa memasukkan alamat email Anda sendiri pada kolom To:, kemudian masukkan alamat email penerima lain dalam kolom Bcc:.


Attachment
Alat pelengkap, penempelan, adhesi. Istilah ini banyak digunakan dalam penggunaan email. Jika anda mengirim sebuah file melalui email, maka file tersebut disebut attachment. Attachment email dapat berupa jenis file apa saja.


World Wide Web
Jejaring Jagat Jembar ("JJJ") atau World Wide Web ("WWW", atau singkatnya "Web") adalah suatu ruang informasi yang yang dipakai oleh pengenal global yang disebut Uniform Resource Identifier (URI) untuk mengidentifikasi sumber-sumber daya yang berguna. JJJ sering dianggap sama dengan Internet secara keseluruhan, walaupun sebenarnya ia hanyalah bagian daripadanya.


Hiperteks dilihat dengan sebuah program bernama penjelajah web yang mengambil informasi (disebut "dokumen" atau "halaman web") dari peladen web (server web) dan menampilkannya, biasanya di sebuah tampilan komputer. Kita lalu dapat mengikuti pranala di setiap halaman untuk pindah ke dokumen lain atau bahkan mengirim informasi kembali kepada peladen untuk berinteraksi dengannya. Ini disebut "surfing" atau "berselancar" dalam bahasa Indonesia. Halaman web biasanya diatur dalam koleksi material yang berkaitan yang disebut "situs web".


Filetype
Option ini digunakan untuk mencari tipe file tertentu. Contoh : filetype : doc untuk mencari file Ms. Word, filetype : ppt untuk mencari file Ms. Powerpoint.

Model-Model Koneksi ke Internet Service Provider (ISP)

Model-Model Koneksi ke Internet Service Provider (ISP) 
Internet Service Provider (ISP) merupakan perusahaan penyedia layanan akses internet bagi pengguna, baik perorangan, rumah tangga, sekolah, maupun perkantoran. ISP di Indonesia cukup banyak, misalnya: Indosatnet, Indonet, Wasantara, dan Telkomnet. Tanpa terhubung ke ISP, kalian tidak dapat memperoleh layanan akses ke internet.

ISP akan memberikan layanan untuk menghubungkan kalian ke internet melalui perangkat keras berupa modem, firewall, dan router. Tidak semua ISP dapat langsung menghubungkan komputer kalian ke internet. Ada juga ISP yang tidak dapat menghubungkan langsung ke internet. Untuk ISP jenis ini, maka ISP tersebut harus memiliki koneksi ke Internet Network Provider (INP) yang merupakan perusahaan yang menyediakan layanan koneksi ke internet. Di Indonesia baru ada sebuah INP, yaitu Indosat.

Bila suatu saat kalian ingin membuat halaman web milik kalian sendiri, maka kalian dapat menghubungi Internet Content Provider (ICP). Perusahaan tersebut menyediakan layanan jasa pembuatan halaman web dan sekaligus memasangkan ke portal-portal yang aktif di intrenet. Beberapa ICP di Indonesia, antara lain Indonesian Interactive (I2), GudegNet, dan Dapur Web.

Untuk melakukan koneksi ke ISP, ada beberapa macam bentuk sesuai dengan model ISP-nya. Bentuk-bentuk koneksi tersebut sebagai berikut:

1. ISP sebagai perusahaan telekomunikasi. PT Telkom merupakan perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia yang bertindak sebagai ISP. Adapun bentuk koneksi yang ditawarkan adalah secara dial up atau leased line.

2. ISP sebagai perusahaan penyedia jasa koneksi ke internet semata. Pada umumnya, perusahaan ini akan menawarkan koneksi nirkabel dengan membangun menara-menara pemancar untuk menangkap frekuensi gelombang radio yang menjadi sarana lalu lintas data dan informasi.

3. ISP sebagai perusahaan penyedia layanan operator ponsel. Pada umumnya, perusahaan ini memberikan layanan sesuai dengan jenis teknologi ponsel yang dikembangkannya, misalnya GPRS.

4. ISP sebagai perusahaan penyedia layanan tv kabel. Pada umumnya, perusahaan ini memberikan layanan koneksi yang menjangkau lokasi dengan menggunakan kabel broadband. 

Pemilihan dan Cara Berlangganan ISP
Untuk melakukan koneksi ke internet dibutuhkan ISP. Padahal ISP yang ada sangatlah banyak dan beragam sehingga dapat membingungkan. Berikut ini beberapa hal yang perlu kalian perimbangkan dalam memilih ISP.

1. Harga. Hal ini merupakan salah satu bagian paling penting dalam pemilihan ISP. Namun, jangan sampai tertipu dengan harga yang murah, sebab bisa saja banyak fasilitas yang dihilangkan atau diberi batas waktu penggunaan. Pilihlah ISP yang memiliki kesesuaian antara harga dan fasilitas yang ditawarkan.

2. Dukungan teknis. Kalian perlu mempertimbangkan apakah ada dukungan dari teknisi ISP tersebut bila terdapat gangguan mendadak pada jaringan. ISP yang layak dipilih adalah ISP yang memiliki dukungan terhadap gangguan mendadak pada jaringan.

3. Kecepatan modem. Kalian perlu mencari informasi, apakah ISP tersebut mampu mendukung penggunaan modem standar dengan kecepatan 56 kbps. Kalian perlu memilih ISP yang mendukung penggunaan modem yang kalian miliki.

4. Akses jaringan. Usahakan jangan memilih ISP yang hanya menjual ulang jasa dari ISP lain, karena kecepatannya akan semakin berkurang.


Untuk berlangganan internet dari ISP terdekat dapat dilakukan dengan cara berikut.
1. Datang langsung ke ISP terdekat dan meminta formulir pendaftaran dan melengkapi registrasi untuk pengaktifan internet.
2. Mengambil dan melengkapi formulir registrasi dari web site ISP yang bersangkutan, contohnya Indosatnet (www.indosatM2.com).
3. Menyerahkan formulir yang sudah dilengkapi ke ISP yang bersangkutan.
4. Bila syarat-syarat yang ditentukan sudah terpenuhi, internet dapat segera diakses dari rumah kalian.


Koneksi dengan ISP
Setelah memahami peran ISP dan proses pendaftarannya, maka kini kalian akan bersiap untuk melakukan koneksi dengan salah satu ISP, yaitu Telkomnet Instant. Koneksi ke ISP Telkomnet Instant tidak memerlukan pengisian formulir seperti halnya koneksi ke ISP lainnya, karena tagihan akan ditujukan kepada pemilik jalur telepon tersebut. Namun, sebelum melakukan koneksi dengan ISP, kalian harus memastikan bahwa modem telah siap untuk digunakan.


1. Instalasi Modem
Sebelum menghubungkan diri ke jaringan internet, kalian perlu memastikan terlebih dahulu bahwa komputer kalian memiliki modem dan sudah terpasang dengan baik. Kemudian, kalian perlu melakukan instalasi modem ke dalam komputer, agar modem tersebut dikenali dan dapat dioperasikan.

Kalian dapat melakukan instalasi modem dengan dua cara. Pertama adalah menggunakan fasilitas “Add/Remove Hardware” yang ada di Control Panel sebagai berikut:

a. Aktifkan menu Add/remove Hardware yang ada di Control Panel.
b. Tekan tombol Next, sehingga komputer akan mulai mencari jika ada hardware baru. 
c. Kliklah tombol Finish untuk mengakhiri proses instalasi.

Apabila dengan cara yang pertama tersebut modem belum terdeteksi, maka kalian dapat menggunakan cara kedua untuk melakukan instalasi modem. Cara kedua ini dengan memanfaatkan fasilitas Phone and Modem Options yang juga terdapat pada Control Panel, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Bukalah Control Panel dan pilihlah Phone and Modem Options.
b. Tekan tombol Add.
c. Tekan tombol Next, sehingga komputer mencari modem yang terpasang. Pastikan modem dalam keadaan hidup dan driver sudah dipasang di CD ROM. Dengan demikian, komputer dapat mengenalinya dan langsung menginstal driver yang diperlukan (jika dibutuhkan).
d. Jika modem ditemukan, maka akan muncul peringatan atau pemberitahuan.
e. Begitu kalian mengklik Finish, maka daftar modem yang sudah berhasil diinstall akan ditampilkan. 

1. Tatacara Penyambungan ke Internet Lewat ISP
Untuk melakukan hubungan ke Internet, maka kalian harus memastikan terlebih dahulu pemasangan perangkat yang diperlukan, yaitu seperangkat komputer, modem, dan jalur telepon. Setelah itu, kalian dapat membuat koneksi ke ISP, dengan syarat kalian telah mendaftarkan diri. Bila kalian atau sekolah menyediakan jalur telepon dari PT Telkom, maka kalian dapat langsung malakukan koneksi ke ISP Telkomnet. ISP ini dapat diakses tanpa harus mengurus pendaftaran, karena fasilitas akses internet tersebut diberikan kepada setiap pelanggan PT Telkom.

Jika kalian menggunakan sistem operasi Windows, maka kalian dapat memanfaatkan fasilitas Windows Socket Program. Fasilitas ini telah disiapkan dalam bentuk aplikasi yang siap untuk dioperasikan. Untuk membangun koneksi ke ISP Telkomnet dengan menggunakan sistem operasi Windows dapat dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:

a. Untuk membuat koneksi Telkomnet, bukalah Network Connections.
b. Setelah itu, pilihlah menu Create a new connection yang ada pada bagian kiri atas.
c. Tekanlah tombol Next.
d. Kliklah button Connect to the Internet, lalu tekanlah tombol Next.
e. Kliklah button ‘Setup my connection manually’, kemudian tekanlah tombol Next.
f. Kliklah button ‘Connect using a dial-up modem’, lalu tekanlah tombol Next.
g. Tulislah nama ISP yang akan dihubungi, misalnya “Telkomnet”, lalu tekanlah tombol Next.
h. Isikan nomor telepon ISP Telkomnet, yaitu 080989999, lalu tekanlah tombol Next.
i. Langkah berikutnya adalah mengisikan user name dan password-nya. Untuk Telkomnet, username-nya adalah telkomnet@instan, sedangkan password-nya adalah telkom. Selanjutnya, tekanlah tombol Next.
j. Tekanlah tombol Finish untuk mengakhiri pembangunan koneksi ke ISP.
k. Untuk melakukan koneksi ke Telkomnet, tekan tombol Dial, sehingga muncul tampilan yang menunjukan komputer sedang membangun koneksi ke Telkomnet.
l. Setelah koneksi berhasil, maka akan muncul pesan bahwa koneksi berhasil dilakukan.
m. Untuk melakukan pemutusan hubungan dari Telkomnet, klik kanan mouse pada koneksi jaringan, kemudian pilih menu Disconnect.

3. Koneksi internet lewat telepon selular
Selain melakukan pendaftaran ke ISP yang terdekat, koneksi internet dapat kalian lakukan dengan menggunakan telepon selular baik GSM maupun CDMA. Peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan koneksi Internet melalui ponsel adalah bluetooth atau inframerah atau kabel data ponsel.

Untuk melakukan instalasi peralatan agar dapat terhubung ke internet dengan menggunakan kartu GSM Matrix, dapat mengikuti langkah-langkah berikut.

Pasang bluetooth pada USB port dan kalian lakukan instalasi driver bluetooth. 
Buka ‘Phone and Modem Option’ yang terdapat pada Control Panel, kemudian pilih bagian modem. Pilihlah bluetooth modem dan tekan tombol properties. 
Pilih menu Advanced dan masukakan ‘Extra Initialization Command’, yaitu AT+CGDCONT=1,”IP”,”[nama access point]”. Dalam hal ini access point merupakan nama access point yang digunakan oleh kartu GSM. Bila belum mengetahui nama access point yang digunakan, kalian dapat bertanya ke gallery GSM terdekat, misalnya untuk Matrix ke Satelindo. Misalkankartu GSM yang digunakan adalah Matrix, maka ‘Extra Initialization Command’ diisi dengan AT+CGDCONT=1,”IP”,”satelindogprs.com”. Setelah langkah tersebut, tekanlah tombol ‘OK’. 
Setelah melakukan inisialisasi pada modem bluetooth, lakukanlah koneksi ke bluetooth modem yang berada di ‘Network Connection’. Caranya dengan mengklik kanan mouse dan pilihmenu connect. 
Setelah memilih menu connect. 

Isikan nomor telepon ISP, sebagai contoh pada GSM Matrix masukkan nomor ‘*99***1#’ lalu tekan Dial. 
Setelah pembangunan koneksi berhasil, maka kalian akan melihat kotak dialog koneksi Bluetooth telah terkoneksi.

Etika Konservasi Biodiversitas

Etika Konservasi Biodiversitas 
Wacana dan tuntutan tentang keharusan konservasi biodiversitas (keanekaragaman hayati) terus berkembang dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat bahwa jaminan keberlanjutan dan mutu hidup dan kehidupan ummat manusia di dunia ini sangat bergantung pada jaminan kelestarian biodiversitas tersebut di muka bumi ini. Manusia memang sangat tergantung pada biodiversitas sebagai sumber energi bagi hidup dan kehidupannya, sehingga dapat dibayangkan jika terjadi kerusakan, pencemaran atau ketiadaan keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup, maka jaminan mutu dan keberlanjutan hidup dan kehidupan umat manusia jelas akan terpengaruh. Dengan demikian, biodiversitas sangat disadari sebagai unsur penting penunjang kehidupan umat manusia dari generasi ke genrasi. Sejarah perkembangan hidup dan kehidupan manusia di muka bumi ini tidak bisa dilepas-pisahkan dari keberadaan biodiversitas, baik yang tersedia secara alamiah maupun sebagai hasil rekayasa budidaya manusia. 

Manusia memang menjadi pusat dari segala sumber persoalan krisis lingkungan hidup termasuk ancaman terhadap kelestarian biodiversitas. Oleh karena itu, persoalan konservasi biodivesitas dan pelestarian lingkungan hidup dalam arti luas, bukan sekedar persoalan teknis-biologis, melainkan lebih sebagai persoalan sosial-budaya. Ini berarti bahwa upaya konservasi biodiversitas dan pelestarian lingkungan hidup dengan hanya menyandarkan pendekatan teknis-biologis, di tengah-tengah tata hubungan antar negara di dunia yang tidak seimbang dan tidak jujur, masih rendahnya tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat, tingginya kemiskinan dan masih tingginya laju pertumbuhan penduduk dengan berbagai konsekwensinya terhadap eksploitasi sumberdaya alam, ternyata makin memperburuk kondisi kualitas lingkungan hidup dan merosotnya ancaman kelestarian biodiversitas di dunia. Dengan demikian diperlukan pendekatan lain yang lebih mendasar, komprehensif dan strategis yang bersifat sosio-budaya, yang mampu menggugah hati nurani manusia dan kemanusiaan yang memiliki kecenderungan dasar berbuat kebaikan dan kebajikan (hanief). Dalam perspektif sosio-budaya inilah, makin disadari dan kuatnya tuntutan untuk mengembangkan dan menerapkan pendekatan lain dalam usaha konservasi melalui upaya mewujudkan masyarakat konservasi (Conservation society). Masyarakat konservasi adalah masyarakat yang dalam interaksinya dengan sumberdaya alam dan lingkungan hidupnya senantiasa memegang teguh dan berperilaku sesuai dengan prinsip etika, kaidah dan norma yang berlaku pada sistem alam (Sunnatullah), yang sesuai dengan karakter sumberdaya alam yang memiliki keterbatasan daya dukung, mempunyai hak hidup dan harus diperlakukan sama seperti halnya manusia sebagai ciptaan Tuhan. Disinilah diperlukan pengembangan nilai-nilai etika konservasi yang akan menjadi panduan, ukuran, batasan dan penilai tentang bagaimana seseorang secara individual maupun komunitas seharusnya bertindak terhadap lingkungannya agar dapat dikatakan benar atau tidak benar, baik atau tidak baik, sesuai atau tidak sesuai. Disinilah mulai pula digali sumber nilai, norma atau landasan yang akan dijadikan sebagai rumusan etika konservasi dimaksud. 

Pada masyarakat yang beragama manapun di dunia, maka sumber hukum, norma dan etika yang diyakini benar dan harus dipegangteguh serta menjadi acuan dalam berperilaku adalah kitab sucinya. Bagi umat Islam, maka Al-Qur’an sebagai kitab suci diyakini memiliki pesan-pesan yang lengkap sebagai petunjuk dan pedoman hidup dan kehidupan di dunia. Ayat-ayat suci Al-Qur’an memang tidak secara eksplisit menjelaskan bagaimana etika konservasi, karena Al-Qur’an bukan kitab tentang konservasi namun sebagai firman Allah Yang Maha Kuasa, maka kandungan makna pesan di dalamnya diyakini menjangkau seluruh segi hidup dan kehidupan manusia termasuk aspek konservasi biodiversitas. Pertanyaannya, pesan mana saja dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dimaknai sebagai prinsip-prinsip etika konservasi biodiversitas ?

TINJAUAN KONSEP ETIKA KONSERVASI 
Untuk membangun suatu pemahaman yang sama tentang konsep etika, ada baiknya perlu terlebih dahulu diuraikan makna etika dan kaitannya dengan moral. Etika menurut asal katanya (etimologi), berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Sedangkan arti etika menurut Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Sedangkan menurut istilah (terminologi), etika lebih merupakan suatu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk (Nata 1996). Etika merupakani hasil pikiran manusia, yang sifatnya humanistis dan antropsentris, yakni berdasar pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Artinya etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia. Nata (1996), bahkan mancatat paling tidak ada empat hal/ciri yang berhubungan dengan etika, yakni : Pertama, dilihat dari segi obyek pembahasannya, etika berusaha membahas perbuatan yang dilakukan manusia. Kedua, dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran manusia atau filsafat, sehingga bersifat relatif atau tidak mutlak, dan tidak pula universal, bersifat terbatas, dapat berubah, memiliki kekurangan atau kelebihan. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya; dan Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni dapat berubah-ubah sesuai tuntutan zaman. 

Dalam praktek kehidupan para profesional, konsep etika tersebut dirumuskan sebagai aturan (kode etik) yang mengikat dan menetapkan perilaku atau perbuatan para profesional tertentu, seperti “Kode Etik IDI (Ikatan Dokter Indonesia)” yang mengatur dan mengikat perbuatan profesi dokter Indonesia; Kode Etik IAI (Ikatan Advokat Indonesia) untuk profesi advokat, dan sebagainya. Dalam perspektif makna etika seperti inilah, konsep etika konservasi mengandung makna sebagai aturan, ketentuan, pedoman yang menetapkan suatu perbuatan manusia atau kelompok manusia itu sesuai dengan asas dan prinsip-prinsip konservasi ataukah tidak. 

Berbeda dengan etika, moral menurut asal katanya (etimologi) berasal dari bahasa Latin mores (jamak dari kata mos) yang berarti adat kebiasaan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan atau kelakuan. Sedangkan dalam arti istilah, moral adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar atau salah, baik atau buruk (Nata 1996). Dalam kamus bahasa Inggris (The Advanced Learner’s Dictionary of Current English”, sebagaimana dikutip Nata (1996), paling tidak kata moral mempunyai tiga makna, yakni : (1) prinsip-prinsip yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk; (2) kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah, dan (3) ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik. Jelas bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah. Seseorang disebut bermoral, itu berarti bahwa orang itu menunjukkan tingkah laku yang baik, begitu pula sebaliknya, jika seseorang disebut tidak bermoral, itu berarti orang itu melakukan sesuatu perbuatan yang buruk yang menyalahi adat kebiasaan yang telah diakui dan diterima oleh masyarakat pada umumnya. 

Meskipun etika dan moral sama-sama membahas obyek yang sama yakni perbuatan manusia, namun keduanya memiliki makna yang berbeda. Nata (1996) mencatat, ada beberapa perbedaan antara etika dan moral. Pertama, Etika lebih menekankan penentuan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolok ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan tolok ukur moral adalah norma-norma, adat istiadat dan kebiasaan yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat. Kedua, etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam dataran konsep-konsep, sedangkan moral berada dalam dataran realitas dan muncul dalam tingkah laku yang berkembang di dalam dan diterima masyakarat. Ketiga, moral lebih dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai yang ada.

Dalam perspektif konservasi biodiversitas, makna moral ini menempatkan seseorang untuk selalu bertindak sesuai dengan asas-asas konservasi sekaligus perwujudan penunaian kewajiban dasarnya sebagai makhluk Tuhan yang harus senantiasa memelihara dan menjaga bumi beserta isinya. Adalah sungguh tidak bermoral, jika manusia sebagai sebaik-baik ciptaan Tuhan yang mengemban amanah mulia sebagai wakil Tuhan (khalifa-Nya) dan tergolong sebagai makhluk berbudaya, beradab dan berakal budi, namun bertindak merusak dan menyebabkan kepunahan biodiversitas di muka bumi ini.

MENGEMBANGKAN ETIKA KONSERVASI BIODIVERSITAS
Etika konservasi (conservation ethic) dapat dibangun dengan dua prinsip pendekatan, yakni pendekatan antroposentris dan biosentris. Pendekatan antroposentris menekankan pada akibat tindakan orang mengenai sumberdaya alam atau lingkungan terhadap kepentingan orang lain. Artinya, etika konservasi ini mengatur bagaimana seharusnya seseorang itu bertindak atau berbuat terhadap sumberdaya alam (SDA) dan lingkungannya secara baik dan benar agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kepentingan orang lain, sekaligus mengatur hukum atau sanksi bila terjadi pelanggaran. Sebagai contoh, jika kita menebang pohon atau membakar hutan, hendaknya mempertimbangkan dampaknya terhadap kepentingan masyarakat sekitar dalam menjadikan hutan itu sebagai sumber penghidupan mereka. Jika kita menebang hutan yang pada gilirannya dapat mengganggu kehidupan masyarakat sekitar karena terjadi banjir, maka kita akan dipandang melakukan tindakan yang salah atau tidak beretika atau tidak bermoral. Sedangkan pendekatan biosentris menekankan pada akibat tindakan orang atau sekelompok orang mengenai sumberdaya alam atau lingkungan tanpa mempertimbangan ada-tidaknya akibat terhadap orang lain melainkan lebih kepada dampaknya terhadap kelestarian orgamisme flora-fauna itu di alam. Artinya lebih menekankan pada akibat tindakan orang atau sekelompok orang terhadap kepentingan kelestarian biologis (flora-fauna) dari SDA atau lingkungan tesebut. Misalnya, jika kita menebang sesuatu pohon dalam hutan, harus mempertimbangkan dampak penebangan pohon itu terhadap kepentingan burung atau satwa tertentu yang menggunakan pohon itu untuk kepentingan kelangsungan hidupnya, baik sebagai sumber pakan, tempat berteduh maupun sebagai tempat berkembangbiak.


Mengacu pada pandangan itulah, sebenarnya dapat dirumuskan beberapa argumentasi etik yang membenarkan perlunya konservasi biodiversitas atau perlindungan terhadap sesuatu spesies langka dan spesies tanpa nilai ekonomi yang jelas, sebagaimana dikemukakan oleh Primack (1993) dan Primack et al. (1998) sebagai berikut: 
1. Setiap spesies memiliki hak untuk hidup, karena setiap spesies memiliki nilai intrinsik, nilai untuk kebaikannya sendiri, meskipun tidak berhubungan dengan kebutuhan manusia. 
2. Semua spesies saling tergantung satu sama lain. Spesies berinteraksi dengan cara yang kompleks sebagai bagian dari komunitas alami. Hilangnya satu spesies memiliki konsekwensi yang jauh bagi anggota lain di dalam komunitas, sehingga secara etik semua spesies harus dijaga kelestariannya.
3. Manusia harus hidup di dalam keterbatasan ekologi seperti spesies lainnya. Artinya manusia harus berhati-hati untuk meminimalkan kerusakan ini karena akan mempengaruhi manusia juga.
4. Manusia harus bertanggungjawab sebagai penjaga dan pelindung bumi. Karena jika kita merusak sumberdaya alam bumi dan menyebabkan kepunahan spesies, maka generasi mendatang harus membayarnya dengan standar dan kualitas hidup yang lebih rendah. 
5. Menghargai kehidupan manusia dan keanekaragaman manusia sebanding dengan menghargai keanekaragaman hayati. 
6. Alam memiliki nilai spiritual dan estetika yang melebihi nilai ekonominya. Hampir setiap orang membutuhkan kehidupan liar dan lansekap secara estetika, dan banyak orang menganggap bumi sebagai ciptaan yang agung dengan kebaikannya sendiri dan nilai yang harus dihargai. Oleh karena itu harus dijaga dan dipertahankan keberadaannya.
7. Keanekaragaman hayati dibutuhkan untuk menentukan asal kehidupan. Dua misteri utama dunia filosofi dan ilmu pengetahuan adalah bagaimana kehidupan timbul dan bagaimana keanekaragaman hidup yang ditemukan di muka bumi saat ini ada. Ribuan ahli biologi bekerja untuk memecahkan misteri ini dan sudah mendekati jawabannya. Jika suatu spesies punah, bukti-bukti menjadi hilang, dan misteri ini menjadi sulit dipecahkan. 


Dalam rangka mendorong pengembangan etika dunia bagi kehidupan berkelanjutan, maka pada tahun 1991 dalam suatu pertemuan yang diprakarsai oleh World Conservation Union dan dihadiri oleh banyak pakar dunia dari berbagai agama, telah dirumuskan Elemen Etika Dunia untuk Kehidupan Berkelanjutan (Hamilton 1993), sebagai berikut:
1. Setiap manusia adalah bagian dari komunitas kehidupan dari semua makhluk hidup yang saling berhubungan antar sesama, antar generasi sekarang dan generasi yang akan datang, kemanusiaan dan bersandar dari alam. Mencakup juga keragaman budaya dan alam.
2. Setiap manusia memiliki hak asasi yang sama, mencakup hak untuk hidup, kemerdekaan dan keamanan personal, hak untuk bebas berbicara, berpikir, beragama, bebeas menyelidiki dan mengungkapkan hasil penyelidikannya; kedamaian bertemu dan berkumpul; berpartisipasi dalam pemerintahan; pendidikan dan mendapatkan sumberdaya dalam dunia yang terbatas untuk suatu standar kehidupan yang layak. Tidak ada individu, kemunitas, atau bangsa yang berhak menghilangkan hak pihak yang lain untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
3. Setiap orang dan setiap masyarakat berhak menghormati hak-hak tersebut dan bertanggungjawab untuk melindungi ha-hak tersebut.
4. Setiap bentuk kehidupan memerlukan pernghargaan secara bebas dari manusia. Pengembangan manusia tidak boleh menekan keutuhan alam atau daya hidup spesies lain. Orang harus menghargai semua ciptaan secara layak dan melindungi mereka dari kekejaman, menghindari penderitaan dan pembunuhan yang tidak perlu.
5. Setiap orang harus bertanggungjawab terhadap dampak dari tindakannya terhadap alam. Orang harus memelihara proses ekologis dan keragaman alam dan memanfaatkan setiap sumberdaya alam dengan hemat dan efisien, menjamin bahwa pemanfaatan mereka terhadap sumberdaya alam yang dapat diperbaharui secara berkelanjutan.
6. Setiap orang harus mengarahkan bersama-sama secara adil manfaat dan biaya dari pemanfaatan sumberdaya diantara berbagai komunitas dan kelompok kepentingan, diantara generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Setiap generasi harus meninggalkan untuk masa yang akan datang suatu dunia yang beragam dan produktif. Pembangunan oleh masyarakat atau generasi tidak boleh membatasi peluang dari generasi atau masyarakat yang lain. 
7. Perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan semua kekayaan alam yang ada merupakan suatu tanggungjawab dunia yang melewati batas semua kulturak, idelogi dan wilayah geografi. Tanggungjawab itu bersifat individual maupun kolektif.



Secara global baik argumentasi etik maupun rumusan elemen etik seperti dikemukakan di atas tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pandangan barat yang modern dan pandangan timur yang tradisional (Budhist seperti ditunjukkan pada Gambar.


Gambar Pandangan Dunia Barat/Modern dan Dunia Timur (Budhis) terhadap SDA dan Lingkungan (Sponsel & Natadecha-Sponsel 1993).


Pandangan timur lebih menekankan pada pendekatan mental dengan usaha pengembangan spiritualitas dan pengurangan sifat-sifat ego, tanpa kekerasan dan meletakkan manusia sebagai bagian tak terpisah dari alam; kelestarian biodiversitas menjadi fokus perhatian. Sebaliknya pandangan barat lebih menekankan pada pendekatan teknologi, meningkatkan usaha pemenuhan seluruh kebutuhan hidup manusia (konsumerisme), bertindak dengan kekerasan serta mengembangkan ekonomi dengan prinsip pertumbuhan yang sebesar-besarnya, lebih antroposentris atau berpusat pada kepentingan manusia dengan memandang manusia merupakan satu bagian tersendiri dari alam. Pandangan barat menekankan pada keseluruhan usaha meningkatkan produktivitas sumberdaya alam bagi kemaslahatan manusia dengan penggunaan teknologi sebagai kekuatan utamanya. Dalam perspektif barat tersebut, jelas terlihat bahwa pandangan baratlah yang hampir mendominasi pemikiran kebanyakan penggerak konservasi di dunia ini yang lebih dibangun atas dasar prinsip pendekatan antroposentris dan biontris, lebih sekularis yang alpa terhadap kesadaran dan panggilan pertanggunjawaban Ilahiah (transedental). Pandangan barat lebih menekankan pada kepercayaan terhadap kekuatan akal pemikiran manusia dan andalan teknologi sebagai faktor penting dalam pengendalian pemanfaatan sumberdaya alam, lepas dari semangat dan kesadaran emosi dan spiritualitas manusia sebagai suatu kekuatan penting. Berbeda halnya dengan pandangan Timur, yang menempatkan pengendalian mental (emosi) dan pengembangan spiritualitas sebagai salah satu ciri penting dan mendasar dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya. Pandangan timur ini antara lain diwakili oleh kultur negara-negara timur seperti Jepang dan Cina yang selalu mengembangkan hubungan harmoni dengan alam lingkungannya dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada dorongan kuat untuk mencapai derajat manusia dan kemanusiaanya melalui pola hubungan yang selaras dan dengan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungannya. Emosi dan spiritualitasnya selalu diarahkan sejalan dengan kondisi dan tatanan alam.


PESAN ETIKA KONSERVASI BIODIVERSITAS DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN 
Dalam perspektif ajaran Islam, paling tidak ada 6 komponen utama hidup yang wajib dipelihara atau dijaga oleh seluruh umat manusia, yakni : (1) memelihara jiwa (Hifdzul nafs), (2) memelihara akal (hifdzul aql), (3) memelihara harta (hifdzul maal), (4) memelihara agama (hifdzul diin), (5) memelihara keturunan (hifdzul nasl) dan (6) memelihara lingkungan hidup (hifdzul biah). Berkaitan dengan memelihara lingkungan hidup tersebut, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan pesan yang dapat dimaknai secara kontekstual terkait dengan prinsip etika konservasi bidoversitas. “Tidaklah Kami (Allah) alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) (QS Al-An’aam (6) : 38). Artinya, Al-Qur’an sebagai kitab yang memuat wahyu Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Awal dan Maha Akhir, tidak akan pernah luput dari semua segi kehidupan di muka bumi ini, baik apa yang sudah terjadi pada masa silam maupun apa yang sedang terjadi dan yang menjangkau jauh dimasa mendatang, termasuk berbagai pemikiran dan temuan ilmu pengetahuan kontemporer dewasa ini. Bucaille (2005) menyatakan bahwa: ”Bagaimanapun, pertimbangan-pertimbangan ilmiah ini tidak menjadikan kita lupa bahwa Al-Qur’an masih merupakan kitab suci yang paling sempurna. Al-Qur’an pastilah bukan kitab ilmiah semata. Dalam Al-Qur’an, kalau manusia diajak untuk memikirkan tentang teka-teki penciptaan dan berbagai fenomena alam lainnya, akan mudah dilihat bahwa maksud sebetulnya adalah untuk menekankan Kemahakuasaan Allah”. Bucaille juga menyatakan bahwa : selama berabad-abad, manusia tidak mampu mempelajari data tertentu yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an, lantaran mereka tidak memiliki peralatan ilmiah yang memadai. Baru belakangan ini, berbagai ayat dari Al-Qur’an yang berkaitan dengan fenomena alam, mampu dipamahi”. Jelas bahwa jika dikaji dengan pisau analisis kontemporer dan kontekstual, dapat dipahami banyak isyarat dari ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan pesan penting tentang keharusan melakukan konservasi. 


Al-Jamaly (1981) menyebutkan Al-Qur’an bagi orang Islam adalah kitab terbesar mengenai filsafat pendidikan dan pengajaran. Pada hakekatnya Al-Qur’an adalah perbendaharaan kebudayaan manusia yang sangat luas …..……. Al-Qur’an adalah kitab pendidikan dan pengajaran. Sebagai kitab pendidikan, Al-Qur’an menggariskan empat tujuan pendidikan di dalamnya, yakni : (1) memperkenalkan kepada manusia sebagai individu, kedudukannya di antara makhluk dan tanggungjawabnya sebagai pribadi dalam kehidupan ini; (2) memperkenalkan kepada manusia hubungan-hubungan kemasyarakatannya dan tanggung jawabnya terhadap ketenteraman masyarakat; (3) memperkenalkan kepada manusia alam seluruhnya dan menjadikannya mengetahui hikmah Khaliq dalam penciptaan-Nya dan memungkinkan manusia memanfaatkannya; dan (4) memperkenalkan kepada manusia Pencipta alam (Allah) dan cara beribadah kepada-Nya. 


Sebagai Kitab dari Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui Yang Ghaib dan Maha Mengetahui apa yang akan terjadi yang belum diketahui dan dijangkau oleh keterbatasan pengetahuan manusia, maka setiap perkembangan ilmu pengetahuan komtemporer yang sering diidentifikasi sebagai penemuan manusia, pasti secara hakiki telah berada dalam skenario besar Ilmu Allah sebagai Pencipta dan Pemilik Alam Semesta ini, sehingga secara eksplisit (tersurat) maupun implisit (tersirat), berbagai hal yang berkenaan dengan konservasi biodiversitas pasti telah terkandung di dalamnya. Melalui pemaknaan atas ayat-ayat Al-Qur’an manusia dapat memperoleh pemahaman sesuai konteks permasalahan yang dihadapi manusia, termasuk yang terkait dengan prinsip-prinsip etika konservasi biodiversitas. Betapapun demikian, Al-Qur’an tentu saja bukanlah kitab tentang konservasi biodiversitas ataupun etika konservasi, tetapi pasti kandungannya secara kontekstual menjangkau segala hal yang sudah dan akan terjadi (berkembang) dalam perjalanan kehidupan umat manusia, termasuk persoalan yang terkait dengan prinsip-prinsip etika konservasi biodiversitas. 


Menyadari akan terbatasnya pengetahuan yang kami miliki, terutama terkait dengan kaidah-kaidah didalam memaknai atau menfasirkan Al-Qur’an, maka sangat disadari bahwa apa yang dapat ditelaah dari kandungan Al-Qur’an yang maha luas ini yang kemudian dituangkan sebagai prinsip-prinsip konservasi biodiversitas tentu saja sangat terbatas, dan tidak hanya apa yang dapat dirumuskan di bawah ini. Apa yang ditulis di bawah ini hanya sebagian kecil, namun setidaknya sebagai sebuah wacana awal dalam mendorong pengembangan nilai-nilai etika yang bersumber dari wahyu Allah, sekaligus sebagai manifestasi penunaian salah satu dari enam kewajiban manusia (umat Islam khususnya) didalam memelihara lingkungannya (hifdzul biah), seperti disebutkan di atas. Kami berlindung kepada Allah dari keterbatasan diri didalam memahami pesan Al-Qur’an tentang konservasi biodiversitas. Beberapa prinsip etika konservasi biodiversitas yang dapat kami identifikasi dari pesan-pesan ayat Al-Qur’an perlu dipahami dan dikembangkan dalam rangka mendorong terwujudnya masyarakat konservasi,. Dapat diuraikan secara singkat di bawah ini. 


Prinsip Pertama: Tuhan sebagai Pencipta dan Pemilik hakiki segala sesuatu di bumi, dan adanya Keragaman Ciptaan-Nya


Al-Qur’an menggariskan bahwa pencipta dan pemilik hakiki bumi beserta segala isi yang terkandung didalamnya adalah Tuhan. Tuhan pulalah yang menjadi Maha Pemberi segenap keperluan hidup manusia. Banyak ayat Al-Qur’an menggariskan tentang prinsip ini diantaranya tertuang dalam QS Thaha (20): 6, QS Al-Hijr (15): 20; QS Al-Furqan (25): 59; QS Al-Baqarah (2): 29; QS Qaaf (50): 38; An-Nur (24): 45.


“Kepunyaan Allah-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada diantara keduanya dan semua yang ada di bawah bumi" (QS Thaha : 6). "Dan Kami (Allah) telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu bukan pemberi rezekinya" (QS Al-Hijr (15) : 20). "Dialah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa" (QS Al-Furqan 25): 59). "Dialah yang menciptakan bagimu segala yang ada di bumi semuanya ....(QS Al-Baqarah (2): 29). "Dan sesungguhnya telah Kami (Allah) ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa ....." (QS Qaaf (50): 38). 


Prinsip ini menegaskan batasan kepada manusia untuk tidak boleh bertindak melampaui kewenangan sebagai bukan pemilik sebenarnya (hakiki) dari bumi beserta segenap isinya termasuk biodiversitas. Jangan bertindak mengingkari (dzalim) atas prinsip ini. "Dan Dia (Tuhan) telah memberikan padamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim (mengingkari)" (QS Ibrahim (14): 34).


Al-Qur’an bahkan juga menunjukkan secara jelas konsep biodiversitas (keanekaragaman hayati) ciptaan-Nya baik jenis flora, fauna dan ekosistem (QS An-Nahl (16):11; Lukman (31) : 10; Fathir (35) : 27-28; Yaasin (36): 34, 71, 80; Al-An'am (6) : 99, 141; Fathir (35): 12). 


“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya, dan sebagian berjalan dengan dua kaki, dan sebagian yang lain berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS An-Nuur (24): 45). 


Prinsip Kedua: Manusia sebagai wakil Tuhan (Khalifah) yang bertugas sebagai pengelola dan pemakmur bumi.
Prinsip ini menggariskan bahwa manusia hanya berstatus sebagai wakil Tuhan dengan tugas utama mengelola dan memakmurkan bumi, sehingga tidak dibenarkan bertindak melampaui batas kewenangan tersebut. Upaya pengembangan pemanfaatan semua sumberdaya ciptaan Tuhan sebagai Pemilik hakiki harus dikhidmatkan bagi kepentingan dan kemaslahatan kemakmuran bumi; menyimpang dari prinsip ini berarti menyalahi dan berdampak negatif terhadap kehidupan di bumi. Al-Qur’an menggariskannya dalam banyak ayat, diantaranya tertuang dalam QS Al-Baqarah (2): 30; QS Huud (11): 61 sebagai berikut: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah (wakil) di muka bumi" (QS Al-Baqarah (2): 30)."Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya" (QS Huud (11) : 61).



Prinsip Ketiga: Keseimbangan dan Keterukuran Alam Ciptaan 
Al-Qur’an menggariskan prinsip tentang sifat keseimbangan dan keterukuran alam sebagai ciptaan Tuhan. Karakter sumberdaya alam yang seimbang dan terukur mengharuskan manusia sebagai wakil Tuhan dengan tugas utama pemakmur dan penjaga bumi untuk senantiasa bertindak dalam koridor karakter dasar sumberdaya yang seimbang dan terukur tersebut. Menyimpang dari prinsip ini pasti akan menimbulkan ketidakseimbangan dan gangguan pada sistem alam yang seimbang dan terukur tersebut. Diantara ayat Al-Qur’an yang menggariskan prinsip ini adalah QS Al-Mulk (67): 3; QS Al-Hijr (15): 19 dan 21; Al-Qamar (54): 49 dan Al-Furqan (25): 2. 

"Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya (sumbernya), dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu" (QS Al-Hijr (15): 21). "Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang" (QS Al-Mulk (67): 3). ”…dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (QS Al-Furqan (25): 2). "Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran" (QS Al-Hijr (15) : 19).

Prinsip Keempat: Prinsip larangan berbuat kerusakan di muka bumi dan dampak kerusakan bumi.
Banyak ayat Al-Qur’an menegaskan tentang prinsip larangan membuat kerusakan di muka bumi, diantaranya seperti digariskan pada QS Al-Baqarah (2): 11; Al-A’raf (7): 56; An-Nahl (16): 34; Al-Qashash (28): 77; Asy-Syu’araa (26): 151-152). 


“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya (Surah Al-A’raf (7) ayat 56). “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi (QS Al-Baqarah (2): 11). Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (QS Al-Qashash (28): 77).


Al-Qur’an juga menegaskan bahwa dengan sifat dasarnya yang seimbang dan terukur, maka sebenarnya semua kerusakan yang terjadi di muka bumi adalah akibat ulah perbuatan manusia. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS Ar-Rum (30): 41). Al-Qur’an juga menegaskan larangan mengikuti perintah pemimpin manapun yang menyebabkan kerusakan di atas bumi. “ …..dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan" (QS Asy-Syu'araa' (26) : 151-152).


Prinsip Kelima: Larangan memanfaatkan sumberdaya secara berlebih-lebihan (boros) dan melampaui batas.
Al-Qur’an juga menegaskan tentang prinsip larangan pemanfaatan sumberdaya secara berlebih-lebihan (boros) dan melampaui batas, selain menyalahi karakter dasar sumberdaya yang seimbang dan terukur, tetapi lebih dari itu juga menyalahi prinsip hakekat keberadaan manusia dengan fungsi dan tugas utama sebagai pemakmur dan pengelola bumi. Hal ini antara lain seperti digariskan dalam QS Al-Baqarah (2): 190; Al-An’am (6): 141; Al-Isra’ (17): 27; QS Al-Furqan (25): 67; QS Al'Alaq (96): 6-7.


"Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya yang bermacam-macam itu bila dia berbuah dan tunaikan haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin), dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan" (QS Al-An'am (6) : 141).


"Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara syetan" (QS Al-Isra' (17): 27). "Janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas" (QS Al-Baqarah (2): 190).

Prinsip Keenam: Semua fauna (binatang) di bumi memiliki hak yang sama dengan manusia sebagai sesama umat Tuhan dan Larangan membunuh spesies apapun tanpa alasan syar’i.
Al-Qur’an menegaskan perihal kedudukan semua binatang (fauna) di muka bumi sebagai sesama umat seperti halnya manusia. Artinya mereka juga memiliki hak hidup dan hak untuk diperlakukan secara baik dan benar sesuai karaker dasarnya. Tidak boleh meniadakan hak hidup mereka tanpa alasan yang dibenarkan (syar’i). “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu (manusia). Tiadalah Kami (Tuhan) alpakan sesuatupun di dalam penciptaannya (Al-Kitab), kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun” (QS Al-An’am (6): 38). “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar .. (QS Al-Furqan (25): 68).


Prinsip Ketujuh: Perintah mempelajari (berpikir) tentang gejala alam (hewan & tumbuhan) 
Al-qur’an juga secara tegas menggariskan prinsip yang terkait dengan keharusan mempelajari atau berpikir tentang fenomena alam dalam rangka mengembangkan pola pengelolaan yang benar dan sejalan dengan karakter dasar sumberdaya alam sebagai ciptaan Tuhan. Diantara ayat-ayat Al-qur’an yang menggariskan prinsip ini adalah QS An-Nahl (16): 11, 66-67; Al-Mulk (67): 19, 30; Qaaf (50): 7-8; Ar-Ra’du (13): 4; Al-Fathir (35): 27; Al-Ghaasyiyah (88): 17-20. 

Prinsip Kedelapan: Setiap orang atau komunitas harus bertanggungjawab atas seluruh perbuatannya dan akan menerima akibatnya di dunia maupun di akhir, sebesar atau sekecil apapun juga.


Al-Qur’an menggariskan bahwa setiap perbuatan manusia di dunia ini siapapun dia akan diminta pertanggungjawabannya di dunia ini maupun di akhirat nanti, sebesar biji sawi sekalipun perbuatan itu. Setiap perbuatan manusia secara individual maupun kelompok dipastikan akan memperoleh balasan (ganjaran), apakah perbuatan baik ataupun jelek. Al-Qur’an menegaskannya didalam beberapa ayat berikut : QS Al-Zalzalah (99); 7-8; An-Naazi’aat (79): 34-41; Al-An’am (6): 132; Al-A’raf (7): 6-9; Yunus (10): 52. 


Prinsip Kesembilan: Semua manusia memiliki kedudukan yang sama di muka bumi dan keharusan membangun kerjasama dalam kebaikan untuk kemasalahatan di bumi.


Al-Qur’an menetapkan bahwa semua manusia, tanpa membedakan suku bangsa sesungguhnya memiliki kedudukan yang sama dan harus memperoleh perlakuan yang sama. Yang membedakannya adalah kebajikan yang diperbuatnya yang menghantarkannya menjadi mulia sebagai orang yang bertaqwa dalam pandangan Tuhan. Untuk itulah maka setiap manusia atau komunitas diprintahkan untuk saling kenal-mengenal dan saling membantu di dalam berbuat kebajikan dan dilarang untuk saling tolong-menolong didalam berbuat kerusakan; setiap orang wajib bertindak adil terhadap siapapun dan dalam keadaan apapun. Diantara ayat Al-Qur’an yang menggariskan tentang prinsip tersebut, yakni QS Al-Hujuran (49): 13; Al-Maidah (5): 2, 8; Al-An’am (6): 152.


Itulah sembilan prinsip etika yang dapat dipetik dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dikembangkan menjadi prinsip-prinsip yang terkait dengan etika konservasi biodiversitas yang selanjutnya perlu dikembangkan dan ditanamkan kepada manusia dalam mewujudkan suatu masyarakat konservasi. Tentu ditinjau dari luasnya kandungan Al-Qur’an dan kesadaran akan keterbatasan yang kami miliki, maka sesungguhnya apa yang diuraikan disini masih terlalu terbatas. Upaya keras masih harus dilakukan terus-menerus dalam upaya mewujudkan masyarakat yang berpegang teguh dan menerapkan prinsip-prinsip etika konservasi dalam seluruh perihidup dan kehidupannya baik secara individual maupun komunitas. 


DAFTAR PUSTAKA
Al-Jamaly FM, 1981. Filsafat Pendidikan Dalam Al-Qur’an. Terjemahan. Penerbit CV Pepara. Jakarta.

Al-Qardhawi Y. 1998. Al-Qur’an. Berbincang tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan. Gema Insani Press. Jakarta.

Bucaille M. 2005. Jelajah Alam Bersama Al-Qur’an. Terjemahan The Qur’an and Modern Science. CV Arafah Group. Solo.

Departemen Agama RI. 1992. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Edisi Lux CV Asy-Syifa’. Semarang.

Hadhiri C. 1993. Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an. Gema Insani Press. Jakarta.

Hamilton LS & HF Takeuchi (Edt.). 1993. Ethics, Religion and Biodiversity. Relation Between Conservationand Cultural Value. The White Horse Press. Cambridge. 

Naik Z. 2005. Jelajah Alam Bersama Al-Qur’an. Terjemahan, The Qur’an and Modern Science, Compatible or Incompatible ?. CV Arafah Group. Solo.

Nata A. 1996. Akhlak Tasauf. PT RajaGrafindi Persada. Jakarta.

Primack RB. 1993. Essentials of Conservation Biology. Sinauer Associates Inc. Sunderland, Massachusetts, USA.

Primack RB, J Suprianta, M Indrawan & P Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Idonesia. Jakarta.

Sponsel LE & P Natadecha-Sponsel. 1993. The Potential Contribution of Buddhism in Developing an Environmental Ethic for The Conservastion of Biodiversity. Dalam Hamilton LS & HF Takeuchi (Edt.). Ethics, Religion and Biodiversity. Relation Between Conservationand Cultural Value. The White Horse Press. Cambridge.